Islam

Gamis Pria yang Digunakan Seorang Tokoh dan Ala Sunnah

anggi / November 13, 2017

Merapatkan aurat merupakan komitmen untuk setiap muslim, pada itu laki-laki maupun perempuan. Beberapa Ahli Agama madzhab Syafi’i berfatwa bahwa aurat untuk kelompok pria yakni yang diantara pusar dan dengkul. Sebaliknya bagi wanita, seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan.

Gamis Pria yang Digunakan Seorang Tokoh

Secara terbuka, menggunakan seluruh tipe pakaian (melainkan mulai bahan-bahan yang dilarang) yakni diperbolehkan sementara kamu menutup aurat. Tapi, memakai baju-baju yang digunakan ataupun disukai bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam nyata mempunyai keistimewaan tersendiri seperti gamis pria.

Tetapi, tidak banyak kecil kiyai menyarankan bahwa menggunakan pakaian yang digunakan oleh Nabi semata-mata merupakan tradisi lantaran negara Arab. Sehingga berawal dari gagasan ini, baju, contohnya, tidak tergolong sunnah.

Terlepas dari gagasan terkandung, sebagian besar ulama memegang bergagasan, seumpama seseorang menggunakan busana ‘sunnah’ terkandung atas permulaan kecintaannya pada Nabi, hingga dia tetap meraih ganjaran dari cintanya tersebut.

Dalam peluang kali ini, mari saya periksa tidak banyak bermacam-macam sunnah-sunnah Rasulullah dalam baju tiap hari.

Peci dan ‘Imamah

Gamis Pria Modern
bukalapak.com

Pada ulasan pada sunnah berbusana ini, kami berawal berawal bagian atasan, bagaimana Rasulullah dan para sahabat.

“Dahulu (pada hari-hari di musim panas), kaum itu (Rasul dan para sahabat) bersujud pada surban, dan songkok (peci), sedang kedua tangannya pada lengan bajunya”. HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Ash-Sholah: Bab As-Sujud ala Ats-Tsaub fi Syiddah Al-Harr (1/150)

Rasulullah menggunakan imamah/sorban yang dililit di kepala. Hal ini menurut kisah pada teman ‘Amr bin Harits -semoga Allah meridhoinya- pernah menyatakan:

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah berkhutbah di hadapan orang-orang dengan memakai sorban hitam di kepalanya” (HR. Muslim 1359)

Gamis dan Jubah

gamis pria
plus.kapanlagicom

Rasulullah benar-benar suka menggunakan gamis pria. Dikatakan, dia suka menggunakan gamis karena dia makin membalut bagian tubuh.

Dari Ummu Salamah -semoga Allah meridhoinya-, ia berkata yang artinya :
“Pakaian yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah gamis.” (HR. Tirmidzi no. 1762)

KH Mushthofa Bisri menafsirkan hadits tentang pakaian yang paling disuka oleh Nabi ini dengan pakaian daerah masing-masing (yang menutup aurat, semisal batik). Sehingga, apabila kita mengenakan batik dengan niat mengikut Nabi (yang mencintai pakaian daerahnya, yaitu gamis), maka ia akan mendapat pahala.

Selain baju gamis pria, Nabi juga demen memakai baju baju tambahan (jubah). Terdapat tidak banyak riwayat yang menjelaskan mengenai hal ini, tetapi kita kutip satu saja.

Dari Abu Rimtsah Rifaah At-Taymiy -semoga Allah meridhoinya-: “Saya pernah melihat Rasulullah memakai dua baju yang hijau”. (HR Tirmidzi dan Abu Daud)

“Dua baju” yang dimaksud pada hadits ini adalah baju dalam (gamis pria) serta baju luar (jubah). Contohnya bisa lihat pada gambar di bawah.

Sarung

sarung pria muslim
Blibli.com

Sarung (izaar) telah muncul dan banyak dipakai dari masa Nabi. Pada awalnya, sarung yang tampak pada masa tersebut tidak sampai makin sama menggunakan apa yang tampak di masa masa ini.

Hanya saja, pada era jahiliyyah, sedikit orang sengaja menambah kain sarung atau gamisnya hingga melebihi mata kaki demi menampakkan bahwa dia yakni orang mampu atau mau membanggakan dirinya.

Tentu, Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam kemudian mencegah untuk menjulurkan kain sarung/gamis melewati mata kaki.
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar -semoga Allah meridhoi keduanya-, ia berkata: “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :

Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena sombong maka Allah tidak akan melihatnya di hari Kiamat kelak.’”
Dari Abu Hurairah -semoga ALlah meridhoinya- dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Kain sarung yang berada di bawah mata kaki tempatnya di Neraka.”

Ulama berpendapat dari hadits ini, bahwasannya tabu hukumnya membentangkan kain celana/sarung/gamis melebihi mata kaki dengan berencana sombong. Akan halnya andaikan tidak ada tujuan tinggi hati, lalu ulama bertentangan argumen, sebelah bergagasan makruh, sedangkan yang berbeda beropini mubah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *